“Menelanjangi” Perempuan Berkalung Sorban

Posted: 28 Januari 2009 in Books & Literatures, Movie & Music
Tag:, , , , , , , , , , , , , ,

perempuan_berkalung_sorban Film “Perempuan Berkalung Sorban” (PBS), karya baru dari sutradara berbakat (menurut Saya) Hanung Bramantyo, sebuh kisah perjuangan seorang  wanita muslimah, yang bernama Annisa (dibintangi Revalina S Temat) dalam memperjuangkan sesuatu yang ia rasa menjadi haknya, di lingkungan pesantren.

(Perhatian!!! beberapa ulasan dibawah mungkin merupakan bocoran bagi film tersebut, bagi yang ingin menikmati filmnya langsung, mohon tidak membacanya, untuk melihat resensi film, bisa melihatnya di 21Cineplex)

Film ini Saya tonton pada saat perayaan hari raya imlek (26 Januari 2009) di Kelapa Gading. Menurut Saya karya-karya Hanung Bramantyo sangat mengagumkan. Menonton karyan Hanung sebelumnya seperti “Ayat-Ayat Cinta” dan “Doa yang Mengancam”, membaut Saya tidak sabar untuk menyaksikan PBS. Saya sendiri belum pernah membaca buku Perempuan Berkalung Sorban karya Abidah El Khalieqy secara langsung.  Karya Hanung Bramantyo selalu fenomenal karena dapat menggambarkan emosi karakter dengan kuat, dan setting filmnya selalu proporsional dan sedap dipandang.

Menonton PBS membuat saya tidak sabar untuk membuat ulasan film tersebut, dengan sekilas membaca komentar orang lain yang sudah menonton film ini di blog ataupun forum, ada beberapa yang sejalan, tapi tidak sedikit juga berbeda pendapat dengan ulasan Saya. Saya sendiri hanyalah seorang muslim, penikmat film, dengan ilmu agama yang terbatas, ulasan ini Saya buat sebagai bentuk apresiasi bagi penulis dan sutradara PBS, walaupun motivasi utama penulisan adalah pada saat film berakhir, Saya dapat merasakan ada yang salah dengan film tersebut.

perempuan_berkalung_sorban2Oke, tapi sebelum Saya mengatakan lebih jauh, hal-hal yang harus  dibenahi dari film tersebut, saya akan berusaha adil, dengan menyampaikan hal-hal baik (positif) dari PBS. Hanung sangat memahami cara memunculkan karakter, dan membuat penonton merasakan apa yang dirasakan oleh tokoh dalam film, seakan kita dapat merasakan sakit, sedih, gembira dari tokoh-tokoh dalam PBS. Setting lokasi, pakaian dan tokoh patut diacungi 2 jempol, sesuai, klop dan tidak berlebihan.

Keindahan alam, suasana pesantren dan angle yang ciamik membuat kita berdecak kagum menonton PBS. Satu hal lagi yang Saya selalu suka dengan film karya Hanung, ia selalu dapat menghilangkan detail-detail yang tidak perlu yang tidak terlalu relevan dengan kisah film. Detail tidak penting yang saya maksud misalnya, kerap kali di sinetron karya anak negeri kita lihat adegan makan dengan pembicaraan tidak penting, yang sering kali membosankan penonton, sehingga mengurangi kenikmatan cerita. Film memang harus ideal, tidak harus penuh dengan remeh temeh seperti kehidupan nyata.

Dari segi cerita, hal yang positif adalah bagaimana seorang Annisa dan Khudori akhirnya menikah dan dikaruniayai anak, walaupun pada akhirnya tokoh Khudori harus berakhir dengan tragis. Tokoh Khudori mencerminkan seorang islam sejati, memiliki ilmu agama tinggi (lulusan Kairo, Mesir), bersahaja, tidak sombong, dan memperlakukan wanita dengan baik, khususnya istrinya. Bahkan tokoh Khudori ini berkali-kali mengingatkan Annisa, bahwa perubahan harus bertahap, dan dengan cara yang benar atau tidak bertentangan.

Sekali lagi saya katakan, tanpa mengambil resensi sedikitpun dari bukunya lansung, Saya mencoba mengulas jalan cerita dari film yang Saya rasa janggal. Seperempat awal film kita akan disuguhi bagaimana kerasnya kehidupan di pesantren bagi seorang anak perempuan kyai, bernama Annisa, yang membuat Saya memiliki ekspektasi bahwa film akan dilanjutkan dengan keberhasilan (yang nyata) dari sang tokoh utama. Tapi sampai akhir film Saya menyadari bahwa sebenarnya tidak ada suatu keberhasilan yang monumental yang membawa perubahan, terhadap komunitas wanita di Indonesia secara umum ataupun komunitas muslimah di pesantren khususnya. Di akhir film tokoh utama “hanya sukses” mendirikan perpustakaan di pesantren. SWGTL (So What Gitu Loh) !!!, hasil akhir penderitaan yang dialami dari awal film sampai akhir film, hanya perpustakaan kecil  di lingkungan pesantren, ruangan yang tadinya digunakan sebagai ruang kelas, sungguh menyedihkan.

Kesimpulan kedua, film ini menurut Saya tidak memiliki pesan moral, atau sesuatu yang bisa dipetik untuk dijadikan manfaat, film ini tak ubahnya seperti film horror yang isinya hanya menakut-nakuti penontonnya, atau film “biru” yang isinya hanya mengundang syahwat penontonnya, kurang lebih seperti memakan sup tanpa garam, makan mie ayam tanpa ayam, tanpa rasa dan kenikmatan, kehilangan esensi dari tontonan keislaman. Kalau anda seorang bule non-islam anda pasti akan menyimpulkan “kasihan sekali menjadi seorang wanita islam di Indonesia”.

Sorban yang menjadi judul film, juga tidak jelas maknanya, karena secara implisit Annisa tidak pernah menggunakan sorban, kecuali di awal dan akhir film, dimana Annisa sambil mengendarai kuda di pinggir pantai dengan tidak jelas arah dan tujuan. Sorban biasanya digunakan kyai (pemuka agama islam) dalam kesehariannya, walaupun sekarang-sekarang ini sorban banyak digunakan grup band Nidji (Giring) dan penggemar-penggemarnya sebagai accesories. Kalau boleh Saya menebak-nebak mungkin maksudnya sorban itu adalah bentuk kekang atau pasung keislaman,  sorban tersebut akhirnya dibuang Annisa diakhir film, mungkin menggambarkan dia telah terlepas dari kekang keislaman yang membuat dia menderita selama ini.

Salah satu perjuangan Annisa adalah berusaha “menyeludupkan” buku-buku yang bertema non-islam, yang sebenarnya dilarang di lingkungan pesantren. Kita semua hidup dalam batasan norma dan agama, kebebasan yang diimpikan oleh Annisa seharusnya tidak terlepas dari peraturan agama, budaya dan negara. Peraturan yang diterapkan di pesantren (walaupun terkadang kolot) digunakan untuk melindungi para santri dan santriwati sesuai nilai-nilai yang dianggap baik dari para kyainya, jika nilai tersebut dirasa tidak cocok, mungkin dari awal sebaiknya memilih pesantren atau sekolah lain yang lebih sesuai dengan nilai kita. Sama saja anda berharap belajar islam di klenteng atau biara, atau mau belajar berkuda di kolam renang, ya ngak nyambung dong, dan merupakan suatu hal yang mustahil. Jika ingin pesantren dimana membaca buku yang bertema non-islam diperbolehkan, carilah pesantren yang sesuai.

Dalam film beberapa kali berbagai tokoh menggambarkan, menjabarkan atau mempertanyakan tentang “kebebasan”, yang sampai terakhir tidak dapat dijelaskan oleh penulis, menurut Saya hal ini penting untuk dijelaskan dengan baik, sehingga mendorong penonton menjalankan “kebebasan” dengan cara yang positif.

Disadari atau tidak film ini seakan-akan menggambarkan islam memperlakukan wanita dengan diskriminatif. Misalnya, diceritakan dalam film ketika seorang laki-laki beristri berzina sampai mempunyai anak, sang kyai, yang tidak lain adalah ayah dari laki-laki yang berzina tersebut merestui hubungan tersebut dengan mengatakan “islam membolehkan seorang laki-laki memiliki istri sampai dengan empat, asal bisa adil”. Bagaimana mungkin seorang kyai merestui perbuatan biadab seperti itu, sedangkan ketika Annisa, seorang perempuan,  “dituduh” berzina, dia sekonyong-konyong di rajam (dilempari batu) oleh penduduk.

Contoh diskriminatif wanita lainnya adalah ketika Annisa mengatakan  islam tidak adil terhadap perempuan, yaitu dengan membedakan hak perempuan dengan laki-laki, seakan-akan perempuan tidak memiliki pilihan ketika diajak “berkumpul” dengan suaminya, ketika meminta perceraian, dalam menuntut ilmu, dan hal-hal lainnya yang secara kodrat menyimpang, yang semuanya seakan-akan tabu dalam kancah keislaman. Padahal kenyataannya islam tidak begitu, islam menyayangi, melindungi, dan mengagungkan ibu, wanita dan perempuan (baca Keistimewaan Wanita).

Menggambarkan karakter Annisa dalam PBS melalui satu kalimat adalah, “Seorang wanita keras kepala, yang hidupnya menderita, dan akhirnya mendapatkan hanya sedikit dari apa yang Ia inginkan”. Film ini menggambarkan profil pemuka islam yang payah, selain menggambarkan tokoh utamanya yang resistance terhadap nilai-nilai islam dan kerap melawan orang tua (khususnya ayahnya), juga menggambarkan kyai, Ayah Annisa, yang keras terhadap anaknya, sampai tega menampar anak perempuannya, bahkan tega “menjual” anaknya untuk kesejaraan pesantren, dengan menikahkannya dengan anak kyai pesantren kaya.

Dan pemenangnya adalah sang tokoh “antagonis”, sang anak kyai tetangga, berpendidikan sarjana, dan kenyang dengan pendidikan pesantren, tetapi memperlakukan istri-istrinya seperti sampah, suka mabok, suka tidak pulang kerumah, bahkan tidak segan mengancam dan melecehkan pesantren. Hebat sekali, bagaimana mungkin seorang anak kyai yang jebolan pesantren bisa berprilaku bejat seperti itu, itukah gambaran islam yang sebenarnya? (tidak mungkin dong). Okelah penulis mungkin ingin menggambarkan tokoh antagonis yang dramatis, tapi jelaskan dong, kenapa dia bisa bejat seperti itu, misalnya ketika pesantren dia sering bolos pendidikan pesantren, atau punya kelainan jiwa yang menyebabkan dia tidak normal, bayangkan! seorang anak kyai!

Film ini dalam beberapa hal, (walaupun mingkin sebagian kecil benar) telah secara sistematis mendiskreditkan islam, digambarkan betapa miskin pesantren islam, seolah-olah tidak bisa membiayai operasionalnya, kenyataannya saya yakin banyak sekali donatur-donatur ataupun orang tua santri dan santriwati dengan suka rela membantu pesantren tempat anaknya berada. Diskredit lainnya adalah ketika seorang teman Annisa, muslimah berjilbab jebolan pesantren “kumpul kebo” dengan pacarnya, tidak ada malu dan penyesalan sama sekali, bahkan menganggap hal itu biasa, dengan santainya memberikan contoh jebolan pesantren lainnya menggunakan pakaian sexy, gila! seakan-akan semua jebolah pesantren memiliki ahlak bobrok seperti itu. Mungkin hal tersebut fenomena nyata yang terjadi, yang mungkin Saya tidak tahu, tapi demi keadilan dan kehormatan, tolong gambarkan juga betapa seorang muslimah yang taat berhasil mencapai keluarga sakinah.

Bahkan film ini melupakan keberadaan Allah, sebagai maha segalanya, Ar Rahman dan Ar Rahim, sang pengasih lagi maha penyayang, yang tidak akan membiarkan mahluknya menderita, bagaiman mungkin Allah SWT membiarkan mahluknya yang tertimpa musibah, terus terjerembab semakin dalam kedalam jurang penderitaan. Berturur-turut dikisahkan Annisa mendapatkan suami berperilaku “binatang”, kemudian suaminya selingkug, kemudian kehilangan ayah, dan kemudian kehilangan suami yang ia sayangi. Bagaimana mungkin Allah membiarkan sang tokoh “antagonis” tetap hidup tanpa lagnat Allah. Sehingga tidak ada hikmah keislaman yang dapat menyirami kisah tersebut, yang dapat memuaskan dahaga dalam sahara kehidupan.

abidah Menonton film tersebut membuat Saya bertanya tentang buku asli dan pengarang buku tersebut yaitu Abidah El Khalieqy. Abidah adalah seorang lulusan Pesantren Persatuan Islam Tarogong. Ia adalah seorang penulis wanita, berjilbab,  yang banyak menulis dengan tema kewanitaan. Karyanya yang lain adalah “Geni Jora” yang juga mengangkat persoalan perempuan, dituangkan dengan cara yang sangat serius, dengan pergerakan, tapi ideologi gender yang ditawarkan tidak dengan cara kasat mata. Setting timur tengah dengan budaya Arab dan suasana pesantren. Perempuan bernama Geni Jora adalah perempuan Islam yang tidak radikal tapi cerdas dan cantik. Dia bukan seorang feminis yang marah-marah, meski ia tetap mengkritik dunia lelaki, tapi kemudian bisa kembali melembut.

Link Lainnya:

Komentar
  1. nawawi mengatakan:

    film PBS bukan film islami,film yang terlalu amat sangat jelek sekali,hanya sebuah karya seni yang fiktif dan gak ada dlm khdupan nyata

  2. abdul hamid mengatakan:

    Assalamu’alaikum, bang, kalau saya memandang pembuatan flim yang menyampaikan pesan moral secara umum apalagi secara khususnya tentang perilaku umat islam tertutup dengan pesan komersilnya,sudah pasti produsernya akan memerintahkan agar bagian bagian yang akan melahirkan keluhuran akhlak islam tentang wanita agar disamarkan demi mendapat keuntungan dunia yang sedikit, itupun kalau yang melaksanakan tahu tentang islam khususnya peran wanita dalam menghadapi hidup baik untuk diri sendiri maupun untuk keluarga. Dan sangat disayangkan mereka hanya tahu kulitnya saja tentang wanita islam sehingga hanya bagian atas saja yang disajikan bahkan dibungkus dengan watak dan tabeat yahudi dan nasrani, yang pada dasarnya mereka selalu berusaha bagaimana agar aqidah orang islam menjadi luntur dan mereka tidak akan senang dengan orang islam sebelum orang islam mengikutinya. Saya berharap dimasa mendatang orang islam dapat membuat dalamnya lautan islam tentang wanita. Oke wassalam salam kenal

  3. Yuda mengatakan:

    @abdul: setuju mas.

    Film ini diangkat dari novel, dimana cerita dalam novel tidak berbeda dari filmnya juga memang mendiskreditkan islam. Jadi sepertinya si penulis memiliki pemahaman yang kurang tepat tentang islam dan wanita, sedangkan si pembuat film dan produser memiliki pemahaman yang kurang tentang islam sehingga mau mengangkatnya menjadi layar lebar.

    Sepertinya memang ada gerakan-gerakan islam liberal tidak hanya dalam bentuk kepercayaan, tetapi juga dalam bentuk karya sastra dan film. Tapi perlu dipahami juga gerakan tersebut apa memang pemahaman yang salah/parsial tentang islam atau memang suatu modus untuk meningkatkan popularitas, karena memang karya seni yang bersifat datar kurang diminati, dibanding yang berbau gender dan sara.

  4. yanti arora mengatakan:

    bagus sekali..insyaallh akn mngikuti imfo..

  5. Herizal Alwi mengatakan:

    I Like it🙂

  6. Nurul Khotimah mengatakan:

    yakin? alumni persatuan islam di tarogong? setau saya dia dari bangil

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s