Karena “Diam adalah Emas”

Posted: 23 Juni 2009 in Personal
Tag:, , ,

Silence_of_The_Storm_by_angelreichBanyak orang lebih memilih untuk mengutarakan pendapatnya dalam suatu permasalahan, khususnya ketika permasalahan itu dialami orang lain, namun terkadang pendapat kita bukan atau tidak diinginkan oleh yang punya masalah, mungkin yang ia mau adalah didengar, ia ingin seseorang mendengarkan keluh kesahnya, kegalauan ataupun jeritan hatinya. Permasalahannya tidak banyak orang yang memiliki kemampuan mendengar, dibandingkan orang yang memiliki kemampuan berbicara.

Artikel ini bukan jeritan hati atau curhat, tapi murni merupakan pemikiran pada saat termenung dalam perjalanan ke kantor menggunakan bus kota. Banyak pemikiran baik yang bermanfaat (maupun tidak) ketika kita termenung atau diam, dan tentunya mau menggunakan otak kita untuk berpikir, jika berbicara sendiri bisa dikategorikan berpikir. Misalnya kenapa disaat pagi hari ketika orang seharusnya segar menghadapi hari, tapi ia lebih memilih tertidur dalam perjalanan, atau kenapa supir bus lebih memilih mengetem di jalan yang sempit sehingga mengganggu perjalanan orang lain, atau kenapa seorang yang berwajah molek, dan berpenampilan matching bisa berada di bus kota, oh tidak, iya melirik kearahku, yeah right, in your dream. Apa yang ingin Saya katakan bahwa diam dan berpikir dapat membuat otak kita bekerja lebih baik, daripada membuang waktu didepan komputer, browsing selama berjam-jam, atau facebook-kan sampai mata merah.

Banyak alasan kenapa seseorang memilih untuk diam, mungkin karena memang dia tidak memiliki sesuatu untuk dikatakan, sehingga dia diam, dalam hal ini diam bukan pilihan, diam merupakan satu-satunya pilihan. Saya diam ketika saya tidak ingin melukai pasangan bicara Saya, tetapi Saya juga tidak ingin berbohong terhadapnya. Saya diam karena Saya ingin mendengarkannya mengatakan apa yang ingin Ia utarakan kepada Saya, dan memotong pembicaraanya sangat tidak sopan. Saya diam karena Saya tidak kenal dia, dan menegurnya akan membuat Saya kelihatan bodoh, dan Saya tidak mau kelihatan bodoh. Saya diam karena Saya sedang buru-buru, bukannya Saya tidak mau membuang waktu Saya, tapi ada hal lain yang lebih penting yang harus Saya lakukan. Saya diam untuk memberinya pelajaran, dia akan mengerti dan belajar dari kesalahannya, daripada Saya harus menerangkan secara detail, kesalahan yang Ia hadapi dan pemasalahan yang diakibatkannya. Jika dengan diam membuatnya berhenti menangis saya akan melakukannya, toh ia sudah menyadari kesalahannya. Saya diam karena dia juga tidak suka pembicaraan yang sekedar basa basi, sehingga sangat menyenangkan bagi Saya untuk tidak berbasa basi denganya. Saya diam karena tidak ada gunanya Saya bicara, hasilnya tetap akan sama apapun yang saya lakukan. Saya diam karena saya menikmati kesalahan yang dilakukan orang lain, sebagai bentuk balas dendam Saya, atas kesalahan yang dilakukan terhadap Saya. Saya diam karena Saya memang tidak paham akan permasalahan tersebut, mengomentari tentang hal yang saya tidak mengerti akan mempermalukan Saya. Saya diam karena memang itu yang Ia inginkan, dan Saya tidak ingin membuatnya tidak enak. Saya diam karena Saya belum mendengar mengenai hal tersebut, jika Saya tahu mungkin Saya akan tetap diam, karena Saya belum mengetahui permasalahan tersebut seutuhnya. Saya diam karena Saya ingin berkonsentrasi melihatmu, melihat apa yang akan engkau lanjutkan selanjutnya. Saya diam karena Kamu sedang marah, marah yang tidak tersalurkan akan membuatmu sakit, dan marah yang dibalas marah akan menyebabkan perkelahian.Saya diam karena Saya tidak tahu lagi apa yang harus saya tulis di artikel ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s